Setelah datang
pasti pergi, itulah siklus cinta yg sebenarnya. Setelah "Witing Tresna
Jalaran Saka kulina" lalu ada "Lungane Tresna Jalaran saka kulina".
Kulina adalah terbiasa. Terbiasa disakiti, terbiasa dikhianati, terbiasa
diabaikan dan sebagainya. Bukankah cinta selalu memaafkan? kamu
melakukan kesalahan dan aku memaafkan, terus berulang-ulang. Kamu telalu
banyak menyakitiku, aku terlalu banyak memaafkanmu. Mulai dari rindu yg
diabaikan, tidak memberi kabar, hingga perbedaanmu. Perlahan-lahan itu
semua menyiksaku, aku benci selalu menangisimu tetapi kamu tidak
mempedulikanku. Mungkin sampai pada akhirnya aku terbiasa, lalu cinta
telah tiada.
Aku percaya kamu tak akan membiarkan itu semua terjadi. Aku percaya kamu akan membaca ini hingga paragraf akhir. Tapi aku tak menjamin kamu meneteskan air mata saat membacanya. Setidaknya kamu bisa menghargaiku membuat ini, dari menentukan judul, kata-kata, kalimat, hingga menjadi paragraf yg efektif dan seberapa banyak air mata yg keluar saat menulis ini. Lalu aku membedakan, kamu yg dulu dan kamu yg sekarang. Aku tak meminta sesuatu lebih padamu, aku tak memintamu kembali seperti dulu. Karena aku tak akan menghalangi perubahanmu.
Aku rindu kata-kata rindu darimu. Setidaknya kata sepele itu saat ini masih kamu ucapkan, meskipun tidak murni seperti kata rindu yg kamu ucapkan dulu. Aku rindu kata sayang, yg dulu jarang kau ucapkan tapi kata itu tulus dan terlihat nyata saat kamu ucapkan. Sekarang, kamu sering menyebutnya, tapi kata-kata itu terlihat semu dan tidak berarti apa-apa. Dulu, sapaanmu selalu ada dihandphoneku. Dari subuh hingga menjelang tidur, kamu terlihat bersemangat membalas pesan-pesanku. Sekarang, haruskah aku menunggu? haruskah aku mengirim pesan dulu?. Aku perempuan sayang, aku juga punya hati. Dimana kamu? yg katanya nggak akan biarin aku nangis lagi.
Kamu kenapa? sudah bosan? sudah jenuh? atau sudah punya seseorang yg lebih berarti dari aku?. AKu percaya, bahkan sudah sangat percaya, jangan ubah kepercayaanku menjadi kecewa. Tapi jika itu ternyata benar, aku bisa apa? aku siapa?.
*Tolong aku, selamatkan aku, selamatkan cintaku. Jangan ubah percaya menjadi kecewa. Kembali buat judul ini menjadi "Witing Trisna Jalaran Saka Kulina" lagi. Aku butuh kamu, aku butuh kita yg dulu*
Aku percaya kamu tak akan membiarkan itu semua terjadi. Aku percaya kamu akan membaca ini hingga paragraf akhir. Tapi aku tak menjamin kamu meneteskan air mata saat membacanya. Setidaknya kamu bisa menghargaiku membuat ini, dari menentukan judul, kata-kata, kalimat, hingga menjadi paragraf yg efektif dan seberapa banyak air mata yg keluar saat menulis ini. Lalu aku membedakan, kamu yg dulu dan kamu yg sekarang. Aku tak meminta sesuatu lebih padamu, aku tak memintamu kembali seperti dulu. Karena aku tak akan menghalangi perubahanmu.
Aku rindu kata-kata rindu darimu. Setidaknya kata sepele itu saat ini masih kamu ucapkan, meskipun tidak murni seperti kata rindu yg kamu ucapkan dulu. Aku rindu kata sayang, yg dulu jarang kau ucapkan tapi kata itu tulus dan terlihat nyata saat kamu ucapkan. Sekarang, kamu sering menyebutnya, tapi kata-kata itu terlihat semu dan tidak berarti apa-apa. Dulu, sapaanmu selalu ada dihandphoneku. Dari subuh hingga menjelang tidur, kamu terlihat bersemangat membalas pesan-pesanku. Sekarang, haruskah aku menunggu? haruskah aku mengirim pesan dulu?. Aku perempuan sayang, aku juga punya hati. Dimana kamu? yg katanya nggak akan biarin aku nangis lagi.
Kamu kenapa? sudah bosan? sudah jenuh? atau sudah punya seseorang yg lebih berarti dari aku?. AKu percaya, bahkan sudah sangat percaya, jangan ubah kepercayaanku menjadi kecewa. Tapi jika itu ternyata benar, aku bisa apa? aku siapa?.
*Tolong aku, selamatkan aku, selamatkan cintaku. Jangan ubah percaya menjadi kecewa. Kembali buat judul ini menjadi "Witing Trisna Jalaran Saka Kulina" lagi. Aku butuh kamu, aku butuh kita yg dulu*
